Kamis, 20 Agustus 2009

Duh... Mbokdhe

WISKOWE


WIS KOWE KEPLE WIS KOWE KERE KEPLE KERE WIS KOWE KERE WIS KOWE KEPLE WIS KOWE KEPLE WIS KEPLE KERE WIS KOWE KERE KEPLE WIS

WIS

KOWE WIS KEPLE

KEPLE WIS KERE

KERE WIS KOWE

WIS WIS WIS

KERE WIS KEPLE

KOWE WIS KEPLE

KERE WIS KERE

WIS

! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! !



Stasiun Tugu, 2003

Aku mau puisimu

Ke mana

:RTB

Bang!!!
Ke mana
Ke mana kau
Ke mana kau sembunyikan
Ke mana kau sembunyikan puisimu!
Sudah kubongkar perut dan kepalamu

Sudah pula kusisir urat-urat nadimu
Ke mana kau sembunyikan puisimu!
Ke mana kau sembunyikan
Ke mana kau
Ke mana
Bang!!!


Rumah Lebah, April 2003

Sambas Berduka

Dalam Puisi


Dalam puisi aku bernyanyi
Teduhkan hati yang kemarin membara nyala

Dalam puisi aku bersujud
Ujubkan ampun yang kemarin terlupa

Dalam puisi aku lipat lalu
Lekat erat depan dada

Dalam puisi aku baca litani
Sembari pintakan damai
Yang sempat tertutup mendung yang lalu



Sambas, Mei 2006

Sahabatku: daun jari-jari

ANAK-ANAK ASAP


Jangan!

Jangan kau umpat api yang beranak asap
Biar terus kusantap
Resap
Dalam nadi yang tak lagi kusuap

Jangan kau tiup asap-asap itu!

Kobar!
Kobarkan hingga mekar!
Hanya dalam asap-asap yang terus berputar
Seiring nyanyi senar
Tabuh gendang menggelegar
Jiwaku telanjang tergelar
Mengejar
Mengincar
Lalu mencecar
Bakar

Sangar!!!!

Sasar benar
Bara melumat bibir
Menjadi abu

Jangan!
Biarkan api menikahi abu
Mengayah dan mengibu bagi anak-anak asap
Dan jiwamu takkan lesap
Dari hati yang membiru


Singkawang, 24 Maret 2006

Antara Aku Kau dan Bapakmu

Selamat Jalan


Belum lagi sempat kubuka ini mata
Pintu hatimu terlanjur merapat
Oleh kutuk ayah

Hentikan tangismu
Jangan biarkan air mata membelah kedua pipimu
Yang dulu menjadi pesona bagi kedua bibirku

Kelak bila mentari cukup dewasa
Akan kau rasa hidupmu
Ringan bagai angin lalu


Wirobrajan, Juli 2002

aku satu kamu

SATU


enam belas kali dua bagi empat sama dengan delapan bukan hanya enam belas kali dua bagi empat sama dengan delapan melainkan juga dua puluh tiga tambah satu bagi tiga sama dengan delapan bagaimana dengan satu tambah satu dalam logika pelaminanku kamu di sampingku terpisah tanda tambah nyata tak lebih dari satu!!



Alverno, Maret 2005

Cermin para politisi

PANJI

Singkawang tenggelam oleh panji-panji angkuh
berdiri di sepanjang jalan Diponegoro
Pangeran itu larut dalam kesedihan bukan
hanya karena di seluruh punggungnya terluka oleh panji-panji itu
Tapi juga karena keluh para pejalan kaki
Yang yang haus tegur sapa panji-panji



Singkawang, November 2007