Kamis, 09 Agustus 2012
Sudahlah
Rabu, 20 Juni 2012
Huh...
SALAH
Mempawah, 2012
Kamis, 20 Agustus 2009
Sekolahku Madanika
Bila perbedaan memang harus ada
Maka bukan lain keindahan menyertainya
Perbedaan umpama bunyi tiupan terompet
Petikan gitar gesekan biola jentikan piano
Dan gebug drum yang mengalir irama sungai
Perbedaan laksana merah jingga kuning
Hijau biru nila dan ungu yang berlapis
Manis kala gerimis
Perbedaan layaknya mata hidung
Mulut telinga kulit dan hati
Yang bersama kerja
Namun masing-masing
Biarkan perbedaan
Akan mengada
Dan mengindah
Diri
Nya
Pontianak, 2007
Pelajaran Agama 2
STIGMATA
Tuhan
Hentikan mereka yang tinggal di genggam
Tangan kiri-Mu menyengat
Amarahku atas luka cambuk
Di sekujur tubuh-Mu
Saat kukejar kupanggil
Tariuku bertebar mereka
Menyusup lewat luka bekas paku
Dan sembunyi di balik luka lambung-Mu
Arghhh ... dapat kubayangkan perih-Mu!
Tak putus kejarku
Kudapat mereka bergegar takut
Bukan padaku
Tapi maut-Mu
Tak kubiarkan waktu menunggu
kuputus telinga mereka
yang tak mau mendengar-Mu
(Petrus.... sarungkan amarahmu!)
Jelas kudengar bisik-Mu
Sontak lemah batinku
Miris kumelihat Kau sambung telinga-telinga itu
dengan tangan kanan-Mu
Sesal kumelihat mereka sujud ampun
Depan rumah Bapa-Mu
Dan Kau buka meski tak mereka ketuk
Sembunyiku di telapak kaki-Mu
kucium harum kasih-Mu
Tuhan
La Verna, 2007
Pelajaran Agama 1
: Sr. Lid
Seorang Guru sedang mengajar tentang silsilah:
Abraham memperanakkan
Ishak memperanakkan
Yakub memperanakkan
Yehuda memperanakkan
Peres memperanakkan
Hezron memperanakkan
Ram memperanakkan
Aminadab memperanakkan
Nahason memperanakkan
Salmon memperanakkan
Boas memperanakkan
Obed memperanakkan
Isai memperanakkan
Daud memperanakkan
Salomo memperanakkan
Rehabeam memperanakkan
Abia memperanakkan
Asa memperanakkan
Yosafat memperanakkan
Yoram memperanakkan
Uzia memperanakkan
Yotham memperanakkan
Akhas memperanakkan
Hizkia memperanakkan
Manasye memperanakkan
Amon memperanakkan
Yosia memperanakkan
Yekhonya memperanakkan
Sealtiel memperanakkan
Zerubabel memperanakkan
Abihud memperanakkan
Elyakim memperanakkan
Azor memperanakkan
Zadok memperanakkan
Akhim memperanakkan
Eliud memperanakkan
Eleazar memperanakkkan
Matan memperanakkan
Yakub memperanakkan
Yusuf memperanakkan
…
Sudahlah, Guru!
Aku tetap tak tahu
siapa memperanakkanku!
Potong anak itu
Novisiat, Desember 2007
Sengat Rajer Babat
Kesepian Kota Jembrana
: Bang DS
Serasa tak mau menunggu sang waktu
Laksana hujan bulan Desember
Kesepian Kota Jembrana bangkit dari laut
Mengejar malam
Lalu menyongsong langit lazuardi
Serasa tak mau menunggu sang waktu
Kesepian menarikan kecak sambil luruhkan
Keringat ke bumi Jembrana yang harum
Serasa tak mau menunggu sang waktu
Laksana hujan bulan Desember
Nanoq, Pram, dan Gus Beniq mengejar maut
Kendara syair malam
Lalu susul Hardiman bangkitkan Linus Suryadi
Yang tertidur dalam pelukan Pariyem
Tak mau mau kalah Sunaryono Basuki KS
Mencubit para politisi yang nyepi
dari festival seni budaya
Serasa tak mau menunggu sang waktu
Bang DS menyelinap di balik kesepian Kota Jembrana
Jembrana, Desember 2003
Kurindu masa kecilku
Andai kaubalik arah larimu
Ingin kubuka
pintu jam waktuku
Biar kurindu
Peluk cium pertama ibuku
Andai kauhenti barang
Sebatang rokok
Ingin
Kuhisap
Puntung
Ayahku
Biar kuteriak
Pukul kasih ayahku
Sendang Sri Ningsih, Desember 2008
Beda? So What Gito Lho!
Bayang di Pagi Hari
Kawan
Coba kita berjalan ke arah Barat pagi ini
Bersama kita saksi
Matahari tak pilih siapa
Pantas miliki bayang
Kawan
Coba kita dengar bisik bayang
Kita yang sejajar
Tak pernah bertengkar
Tentang warna kulit dan bola mata tuannya
Singkawang, Mei 2006
Duh... Mbokdhe
WIS KOWE KEPLE WIS KOWE KERE KEPLE KERE WIS KOWE KERE WIS KOWE KEPLE WIS KOWE KEPLE WIS KEPLE KERE WIS KOWE KERE KEPLE WIS
WIS
KOWE WIS KEPLE
KEPLE WIS KERE
KERE WIS KOWE
WIS WIS WIS
KERE WIS KEPLE
KOWE WIS KEPLE
KERE WIS KERE
WIS
! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! !
Stasiun Tugu, 2003
Aku mau puisimu
Ke mana
:RTB
Bang!!!
Ke mana
Ke mana kau
Ke mana kau sembunyikan
Ke mana kau sembunyikan puisimu!
Sudah kubongkar perut dan kepalamu
Sudah pula kusisir urat-urat nadimu
Ke mana kau sembunyikan puisimu!
Ke mana kau sembunyikan
Ke mana kau
Ke mana
Bang!!!
Rumah Lebah, April 2003
Sambas Berduka
Dalam Puisi
Dalam puisi aku bernyanyi
Teduhkan hati yang kemarin membara nyala
Dalam puisi aku bersujud
Ujubkan ampun yang kemarin terlupa
Dalam puisi aku lipat lalu
Lekat erat depan dada
Dalam puisi aku baca litani
Sembari pintakan damai
Yang sempat tertutup mendung yang lalu
Sambas, Mei 2006
Sahabatku: daun jari-jari
ANAK-ANAK ASAP
Jangan!
Jangan kau umpat api yang beranak asap
Biar terus kusantap
Resap
Dalam nadi yang tak lagi kusuap
Jangan kau tiup asap-asap itu!
Kobar!
Kobarkan hingga mekar!
Hanya dalam asap-asap yang terus berputar
Seiring nyanyi senar
Tabuh gendang menggelegar
Jiwaku telanjang tergelar
Mengejar
Mengincar
Lalu mencecar
Bakar
Sangar!!!!
Sasar benar
Bara melumat bibir
Menjadi abu
Jangan!
Biarkan api menikahi abu
Mengayah dan mengibu bagi anak-anak asap
Dan jiwamu takkan lesap
Dari hati yang membiru
Singkawang, 24 Maret 2006
Antara Aku Kau dan Bapakmu
Selamat Jalan
Belum lagi sempat kubuka ini mata
Pintu hatimu terlanjur merapat
Oleh kutuk ayah
Hentikan tangismu
Jangan biarkan air mata membelah kedua pipimu
Yang dulu menjadi pesona bagi kedua bibirku
Kelak bila mentari cukup dewasa
Akan kau rasa hidupmu
Ringan bagai angin lalu
Wirobrajan, Juli 2002
aku satu kamu
SATU
enam belas kali dua bagi empat sama dengan delapan bukan hanya enam belas kali dua bagi empat sama dengan delapan melainkan juga dua puluh tiga tambah satu bagi tiga sama dengan delapan bagaimana dengan satu tambah satu dalam logika pelaminanku kamu di sampingku terpisah tanda tambah nyata tak lebih dari satu!!
Alverno, Maret 2005
Cermin para politisi
PANJI
Singkawang tenggelam oleh panji-panji angkuh
berdiri di sepanjang jalan Diponegoro
Pangeran itu larut dalam kesedihan bukan
hanya karena di seluruh punggungnya terluka oleh panji-panji itu
Tapi juga karena keluh para pejalan kaki
Yang yang haus tegur sapa panji-panji
Singkawang, November 2007
Ya ... Aku Telah Kalah
SANTET
Ketika kau kirim aku sekarang bunga berduri jarum
Ngilu sudut-sudut nadiku
Orang-orang yang sedang bertamasya dalam tubuhku
Sekejap berteriak sesak berebut arah
Mereka yang sedang menyelam dalam lautan mimpiku
Mengejang otot. Karam!
Mereka yang sedang mamadu suara di atas panggung jiwaku
Terlindas oleh nyaring suaranya sendiri
Mereka yang sedang menari di atas papan selancar
Ditelan oleh riak darahku
Ya..
Aku memang harus selesai!
Singkawang, Oktober 2007
Luka Seorang Penyair Riau
Luka Hati
: Marhalim Zaini
Seperti yang lalu
Hatimu mulai berdarah lagi
Kau telanjangi dadamu yang tipis
Lalu kau robek hingga menganga
Dan kau tunjukkan pada bintang
Yang sejumlah luka hatimu
Teater Batu Kuala, Februari 2002
Ketika Senja Tiba
Permintaan Terakhir
Di ambang senjaku
Bukan manusia yang kuharap
Menguburkan ragaku
Kelak ketika jiwa harus kembali
Semoga Dia yang menjanjikan kehidupan abadi
Berkenan menyulut api pencucianku
Kuala Lumpur, 2006
Selasa, 18 Agustus 2009
Bulan menari di atas air sendang
Bulan Jangan Tatap Aku Begitu
Bulan
Jangan tatap aku begitu
Aku tahu harusku terjaga
Namun mataku dipukul kantuk
Bulan
Jangan tatap aku begitu
Aku tahu harusku setia
Namun hatiku disumbat bebal
Bulan
Jangan tatap aku begitu
Aku tahu dua bayang telah mengusap air matanya
Yang darah
Sendang Jati Ningsih, Desember 2008
Ketika Art Center Melepas Kisah
Dua Bocah Laki Perempuan
: Nanoq da Kansas
Dalam cangkir kopi yang semalam kau seduh
Kulihat dua bocah laki perempuan berlari
Menangis dan mencaci laki perempuan dewasa
Yang tak kurang dari dua penggalan tangan
Di belakang mereka
Kucoba perhatikan lebih teliti
Mereka berlari ke arah dua laki-laki
Yang tak begitu jelas bagi penglihatanku
Yang tampak hanyalah
Dua tubuh tipis dan
Burai rambut panjang lagi lurus
Pada kepala mereka
Kucoba usap kedua mataku
Dan kutajamkan benar-benar
Bukan main aku terhenyak melihat diriku sendiri
Berdiri di samping tubuhmu
Menunggu ruh
Yang tak juga menggapai
Dua bocah laki perempuan itu
Denpasar, Desember 2003
