Ke mana
:RTB
Bang!!!
Ke mana
Ke mana kau
Ke mana kau sembunyikan
Ke mana kau sembunyikan puisimu!
Sudah kubongkar perut dan kepalamu
Sudah pula kusisir urat-urat nadimu
Ke mana kau sembunyikan puisimu!
Ke mana kau sembunyikan
Ke mana kau
Ke mana
Bang!!!
Rumah Lebah, April 2003
Kamis, 20 Agustus 2009
Aku mau puisimu
Sambas Berduka
Dalam Puisi
Dalam puisi aku bernyanyi
Teduhkan hati yang kemarin membara nyala
Dalam puisi aku bersujud
Ujubkan ampun yang kemarin terlupa
Dalam puisi aku lipat lalu
Lekat erat depan dada
Dalam puisi aku baca litani
Sembari pintakan damai
Yang sempat tertutup mendung yang lalu
Sambas, Mei 2006
Sahabatku: daun jari-jari
ANAK-ANAK ASAP
Jangan!
Jangan kau umpat api yang beranak asap
Biar terus kusantap
Resap
Dalam nadi yang tak lagi kusuap
Jangan kau tiup asap-asap itu!
Kobar!
Kobarkan hingga mekar!
Hanya dalam asap-asap yang terus berputar
Seiring nyanyi senar
Tabuh gendang menggelegar
Jiwaku telanjang tergelar
Mengejar
Mengincar
Lalu mencecar
Bakar
Sangar!!!!
Sasar benar
Bara melumat bibir
Menjadi abu
Jangan!
Biarkan api menikahi abu
Mengayah dan mengibu bagi anak-anak asap
Dan jiwamu takkan lesap
Dari hati yang membiru
Singkawang, 24 Maret 2006
Antara Aku Kau dan Bapakmu
Selamat Jalan
Belum lagi sempat kubuka ini mata
Pintu hatimu terlanjur merapat
Oleh kutuk ayah
Hentikan tangismu
Jangan biarkan air mata membelah kedua pipimu
Yang dulu menjadi pesona bagi kedua bibirku
Kelak bila mentari cukup dewasa
Akan kau rasa hidupmu
Ringan bagai angin lalu
Wirobrajan, Juli 2002
aku satu kamu
SATU
enam belas kali dua bagi empat sama dengan delapan bukan hanya enam belas kali dua bagi empat sama dengan delapan melainkan juga dua puluh tiga tambah satu bagi tiga sama dengan delapan bagaimana dengan satu tambah satu dalam logika pelaminanku kamu di sampingku terpisah tanda tambah nyata tak lebih dari satu!!
Alverno, Maret 2005
Cermin para politisi
PANJI
Singkawang tenggelam oleh panji-panji angkuh
berdiri di sepanjang jalan Diponegoro
Pangeran itu larut dalam kesedihan bukan
hanya karena di seluruh punggungnya terluka oleh panji-panji itu
Tapi juga karena keluh para pejalan kaki
Yang yang haus tegur sapa panji-panji
Singkawang, November 2007
Ya ... Aku Telah Kalah
SANTET
Ketika kau kirim aku sekarang bunga berduri jarum
Ngilu sudut-sudut nadiku
Orang-orang yang sedang bertamasya dalam tubuhku
Sekejap berteriak sesak berebut arah
Mereka yang sedang menyelam dalam lautan mimpiku
Mengejang otot. Karam!
Mereka yang sedang mamadu suara di atas panggung jiwaku
Terlindas oleh nyaring suaranya sendiri
Mereka yang sedang menari di atas papan selancar
Ditelan oleh riak darahku
Ya..
Aku memang harus selesai!
Singkawang, Oktober 2007
