Luka Hati
: Marhalim Zaini
Seperti yang lalu
Hatimu mulai berdarah lagi
Kau telanjangi dadamu yang tipis
Lalu kau robek hingga menganga
Dan kau tunjukkan pada bintang
Yang sejumlah luka hatimu
Teater Batu Kuala, Februari 2002
Kamis, 20 Agustus 2009
Luka Seorang Penyair Riau
Ketika Senja Tiba
Permintaan Terakhir
Di ambang senjaku
Bukan manusia yang kuharap
Menguburkan ragaku
Kelak ketika jiwa harus kembali
Semoga Dia yang menjanjikan kehidupan abadi
Berkenan menyulut api pencucianku
Kuala Lumpur, 2006
Selasa, 18 Agustus 2009
Kemenangan dalam Naik Dangau
Kamsia kawan-kawan penabuh ...
Terima kasih Pak Leo, Bu Leo
saya sudah diizinkan berlatih tari Dayak
Terimakasih Bang Is
Sanggar Enggang Gading: Sebuah Cerita
Menghidupkan kembali ruh yang tinggal dalam pantak, lalu merasukkannya dalam tubuhku yang begitu jawa...
Untunglah tabuh gendang dan alunan gamelan mengantarku pada jiwa yang pantas mendapatkan raga
Bulan menari di atas air sendang
Bulan Jangan Tatap Aku Begitu
Bulan
Jangan tatap aku begitu
Aku tahu harusku terjaga
Namun mataku dipukul kantuk
Bulan
Jangan tatap aku begitu
Aku tahu harusku setia
Namun hatiku disumbat bebal
Bulan
Jangan tatap aku begitu
Aku tahu dua bayang telah mengusap air matanya
Yang darah
Sendang Jati Ningsih, Desember 2008
Ketika Art Center Melepas Kisah
Dua Bocah Laki Perempuan
: Nanoq da Kansas
Dalam cangkir kopi yang semalam kau seduh
Kulihat dua bocah laki perempuan berlari
Menangis dan mencaci laki perempuan dewasa
Yang tak kurang dari dua penggalan tangan
Di belakang mereka
Kucoba perhatikan lebih teliti
Mereka berlari ke arah dua laki-laki
Yang tak begitu jelas bagi penglihatanku
Yang tampak hanyalah
Dua tubuh tipis dan
Burai rambut panjang lagi lurus
Pada kepala mereka
Kucoba usap kedua mataku
Dan kutajamkan benar-benar
Bukan main aku terhenyak melihat diriku sendiri
Berdiri di samping tubuhmu
Menunggu ruh
Yang tak juga menggapai
Dua bocah laki perempuan itu
Denpasar, Desember 2003



