Kamis, 20 Agustus 2009

Luka Seorang Penyair Riau

Luka Hati

: Marhalim Zaini

Seperti yang lalu
Hatimu mulai berdarah lagi
Kau telanjangi dadamu yang tipis
Lalu kau robek hingga menganga
Dan kau tunjukkan pada bintang
Yang sejumlah luka hatimu


Teater Batu Kuala, Februari 2002

Ketika Senja Tiba

Permintaan Terakhir


Di ambang senjaku
Bukan manusia yang kuharap
Menguburkan ragaku
Kelak ketika jiwa harus kembali
Semoga Dia yang menjanjikan kehidupan abadi
Berkenan menyulut api pencucianku



Kuala Lumpur, 2006

Selasa, 18 Agustus 2009

Kemenangan dalam Naik Dangau


Makasih Dedi, Mimi, serta teman-teman penari yang lain ...

Kamsia kawan-kawan penabuh ...

Terima kasih Pak Leo, Bu Leo
saya sudah diizinkan berlatih tari Dayak

Terimakasih Bang Is

Belalek ... Sebuah cerita tentang seorang Panglima
yang memangsa gadis-gadis kampung untuk menambah
kesaktiannya.


Belalek ... Menyerah pada keluguan dan kesederhanaan
seorang pemuda kampung yang berusaha menyelamatkan gadis pujaannya.

Sanggar Enggang Gading: Sebuah Cerita



Menghidupkan kembali ruh yang tinggal dalam pantak, lalu merasukkannya dalam tubuhku yang begitu jawa...

Untunglah tabuh gendang dan alunan gamelan mengantarku pada jiwa yang pantas mendapatkan raga

Bulan menari di atas air sendang

Bulan Jangan Tatap Aku Begitu

Bulan
Jangan tatap aku begitu
Aku tahu harusku terjaga
Namun mataku dipukul kantuk

Bulan
Jangan tatap aku begitu
Aku tahu harusku setia
Namun hatiku disumbat bebal

Bulan
Jangan tatap aku begitu
Aku tahu dua bayang telah mengusap air matanya
Yang darah


Sendang Jati Ningsih, Desember 2008

Ketika Art Center Melepas Kisah

Dua Bocah Laki Perempuan

: Nanoq da Kansas

Dalam cangkir kopi yang semalam kau seduh
Kulihat dua bocah laki perempuan berlari
Menangis dan mencaci laki perempuan dewasa
Yang tak kurang dari dua penggalan tangan
Di belakang mereka

Kucoba perhatikan lebih teliti
Mereka berlari ke arah dua laki-laki
Yang tak begitu jelas bagi penglihatanku
Yang tampak hanyalah
Dua tubuh tipis dan
Burai rambut panjang lagi lurus
Pada kepala mereka

Kucoba usap kedua mataku
Dan kutajamkan benar-benar

Bukan main aku terhenyak melihat diriku sendiri
Berdiri di samping tubuhmu
Menunggu ruh
Yang tak juga menggapai
Dua bocah laki perempuan itu


Denpasar, Desember 2003